Trustycopywriter's Blog

MEMBANGUN EKONOMI MANDIRI ORANG DESA | 09/13/2014

Beberapa waktu lalu saya mengamati perjalanan kereta api ekonomi Rangkasbitung menuju Tanah Abang. Di dalam gerbong terdapat beraneka ragam orang yang akan beraktifitas di Jakarta, mulai dari karyawan, pedagang, pelajar. Satu yang menarik untuk saya adalah seorang ibu paruh baya yang membawa dagangan pisang rebus, lepet, dan beberapa penganan tradisional lainnya. Ia akan berdagang di pasar Kebayoran. Sepanjang perjalanan, ada saja penumpang yang membeli dagangannya untuk sarapan. Tiba di stasiun Kebayoran, dagangan ibu tersebut terlihat sudah lumayan berkurang. Jadi, bayangkan saja jika dalam waktu 3 jam dagangan ibu itu sudah habis, ia sudah bisa kembali ke rumahnya di Rangkas dengan membawa hasil. Jika ibu itu berjualan setiap hari, maka bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang bisa dikumpulkan dalam satu bulan. Sudah pasti cukup sekali untuk kehidupan keluarganya.

Ya, transportasi yang mudah dan murah tentu akan mendukung kemajuan ekonomi masyarakat khususnya mereka yang ada di desa atau pinggiran kota. Lihat saja dari ibu pedagang pisang rebus tersebut. Ia hanya memanfaatkan hasil bumi yang mudah ditemukan di sekitar tempat tinggalnya untuk mendapatkan uang yang cukup bagi kebutuhan keluarganya. Apalagi jika transportasi tersebut terintegrasi satu sama lain. Maka, bisa dipastikan tak perlu lagi ada pengemis di kota besar, karena meski terbatas pendidikan, mereka bisa berdagang hasil bumi. Indonesia sangat kaya, bahkan dari sebatang pohon singkong yang ditancapkan begitu saja dapat tumbuh subur dan dapat memberikan hasil seperti ketela yang dapat diolah menjadi tepung dan tepungnya dapat diolah lagi menjadi mie kering, cemilan dan lainnya. Oleh karena itu dibutuhkan partisipasi dari para orang pintar di negeri ini yang berjiwa besar dan mau membangun masyarakat. Pemerintah juga perlu membangun mental dan cara berpikir masyarakat desa. Dimulai dari memaksimalkan kinerja perangkat desa untuk membangun pola pikir masyarakatnya.

Saya juga pernah mengamati bagaimana transportasi murah yang terintegrasi memudahkan masyarakat untuk hidup mandiri sehingga tidak menjadi beban bagi pemerintah. Contoh kereta api jurusan Jogja-Solo dan sebaliknya mengangkut karyawan atau pedagang batik dari kota tersebut. Mbok pedagang batik, mbok pedagang kerupuk, penjaja kerajinan tangan, semuanya bisa memperoleh penghidupan dari kemudahan sarana transportasi. Ditambah lagi dengan adanya stasiun kereta Maguwo yang berada di dalam kawasan bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Kemudian selangkah keluar dari bandara ini, Anda dapat menemukan Halte Bus yang memungkinkan Anda naik bus menuju kota Jogjakarta dan sekitarnya menggunakan TransJogja yang rutenya juga sudah terintegrasi. Tidak hanya dari sisi perdagangan yang terakomodir dengan adanya sarana transportasi yang terintegrasi seperti ini. Tetapi juga pariwisata kota ini juga semakin maju, karena turis yang datang ke kota ini bisa memanfaatkan transportasi ini dengan mudahnya. Sektor bisnis terkait pun turut terbangun, yang tentunya akan memberikan efek positif bagi masyarakat di kota tersebut.

Rasanya memang negeri ini bukan sekedar memiliki orang pintar yang hanya pintar berbicara. Tetapi, sudah saatnya negeri ini membutuhkan orang-orang pintar yang bisa menerapkan kepintarannya untuk membangun masyarakat.


Posted in Opinion

Leave a Comment »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: