Trustycopywriter's Blog

Benarkah BBM Bersubsidi untuk Mereka yang Tak Mampu? | 07/02/2011

Beberapa waktu ini masyarakat kembali dihebohkan dengan dikeluarkannya fatwa haram menggunakan BBM bersubsidi oleh MUI. Pertanyaan paling mendasar, mengapa urusan penggunaan BBM sampai harus dikeluarkan fatwa haram? Sudah tepatkah pemerintah mengkampanyekan penggunaan BBM bersubsidi? Memang yang harus dipertanyakan adalah soal kalimat BBM bersubsidi diperuntukkan hanya untuk kalangan kurang mampu.

Mari kita pikirkan dengan pikiran terbuka, bagaimana mungkin kalangan kurang mampu dapat membeli BBM? Lha wong untuk membeli kebutuhan urusan perut saja (makan) mereka tak sanggup memenuhinya. Jelas sekali kalangan kurang mampu bukan target dari BBM bersubsidi. Toh, untuk apa juga mereka membeli BBM karena tak ada urusannya dengan hal tersebut. Padahal, mayoritas pengguna BBM bersubsidi atau premium ini adalah masyarakat produktif yang berada di kelas menengah. Pedagang sayur mayur yang harus mengirim sayuran ke pasar induk. Pedagang ikan yang harus mengantarkan ikan dari pasar ikan di Muara Karang ke beberapa pasar-pasar tradisional. Tukang pos yang setiap hari harus mengantarkan surat. Perusahaan ekspedisi yang harus mengantarkan barang kiriman sampai ke tujuan. Banyak bisnis yang mengandalkan premium sebagai bahan bakar utama untuk menunjang kegiatan operasionalnya. Bagaimana dengan pegawai negeri sipil yang begitu besar jumlahnya di setiap propinsi, yang tentunya juga mengandalkan premium sebagai bahan bakar mereka menuju ke tempat kerja?

Kalangan atas sudah pasti akan memilih pertamax sebagai bahan bakar kendaraannya. Mereka juga mengetahui kualitas pertamax lebih baik daripada premium. Pastinya, mereka akan menggunakan pertamax untuk kendaraan kesayangannya. Jadi, yang perlu diperhatikan pemerintah adalah berapa persen kalangan atas yang tinggal di Jakarta dan di setiap kota di Indonesia. Sudah pasti masyarakat kalangan menengah ke bawah akan tampak lebih besar jumlahnya dan mayoritas di negeri ini. Inilah golongan yang perlu mendapat perhatian soal BBM ini dari pemerintah. Kalangan atas memiliki pretensi dan prestise sehingga mereka dijamin takkan mempertaruhkan kondisi prima kendaraannya dengan menggunakan premium atau BBM bersubsidi.

Yang perlu dilakukan pemerintah adalah bagaimana menyediakan bahan bakar murah bagi masyarakat mayoritas ini sehingga perekonomian dapat terus berjalan. Kampanye BBM bersubsidi sebaiknya dipikirkan kembali cara mengkomunikasikan yang tepat. Bukan BBM bersubdisi untuk golongan tak mampu. Tapi, dana subsidi untuk bahan bakar akan dikurangi dan dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat di bidang kesehatan dan pendidikan. Sementara harga BBM akan mengikuti harga pasaran dunia. Kita lihat, bagaimana masyarakat menyikapi hal ini. Cara ini rasanya membuat masyarakat lebih pintar untuk berpikir dan mencari solusi terhadap kebutuhan bahan bakar. Apalagi jika urusan kesehatan dan pendidikan anak tak lagi menjadi soal karena sudah menjadi tanggungan negara misalnya.


Posted in Opinion

Leave a Comment »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: